Antara Bersama dan Kebersamaan

Antara Bersama dan Kebersamaan

Kebersamaan

Takdir manusia memang selalu hidup bersama. Berkumpul, berkelompok, dan saling berinteraksi satu sama lain. Tetapi , hidup bersama tak serta merta membawa kebersamaan. Ada pertemuan fisik, namun ada dinding jiwa yang membatasinya. Ada interaksi , tetapi minus ikatan hati. Jangankan ikatan jiwa, sentimen kemanusiaan yang paling mendasar pun seringkali absen.

Hilangnya kebersamaan ditandai oleh penyakit individualisme yang akut. Orang hanya peduli pada urusannya sendiri, tidak pada orang lain, bahkan ketika orang lain nyawanya terancam dan membutuhkan pertolongan. Itulah yang terjadi di kota Foshan, Guangzhou, China. Seorang anak berusia dua tahun ditabrak dan dilindas mobil, bahkan sampai dua kali, tapi nyaris tak seorang pun yang mau menolongnya. 18 orang lalulalang melewatinya tetapi tidak tergerak untuk membantu anak yang telah berlumuran darah itu, sampai kemudian seorang pemulung melihat dan menolongnya

Bersama dan kebersamaan tidak serupa. ‘Bersama’ sekadar menandai peraturan fisik, sementara kebersamaan menjelaskan ikatan jiwa. Kebersamaan akan membangkitkan rasa peduli satu sama lain. Keselamatan orang lain adalah keselamatan kita juga. Ini yang mulai redup di banyak tempat, termasuk negri kita. Banyaknya kasus pencopetan di muka umum misalnya, terjadi karena ketidakpedulian. Berpikir untuk keselamatan dirinya sendiri, banyak orang yang lebih suka diam ketika melihat tukang copet beraksi dan memakan korban.

Bersama dan kebersamaan memang beda. ‘Bersama’ lebih berdimensi kuantitatif, sedangkan kebersamaan ada dalam ranah kualitatif. Maka kualitas kebersamaan itu nakan terukur pada sejauh mana ia mampu menciptakan kualitas hidup. Meredupnya kebersamaan akan diiiringi melemahnya kualitas hidup.

Jika ukuran jumlah orang, jakarta kurang apa padatnya. Orang berkumpul dan berrseliweran di mana-mana. Anehnya, tindak kejahatan di siang bolong, di puncak keramaian, semakin marak akhir-akhir ini. Kebersamaan perlu dievaluasi ulang jjika pelaku kejahatan semakin merasa aman untuk melakukan aksinya di lingkungan kita.

Kebersamaan akan membangkitkan kesadaran kolektif bahwa kehidupan ini terlalu berat jika dihadapi seorang diri. Kebersamaan juga melahirkan kesadaran bahwa kehidupan sosial layaknya sebuah sistem, satu sama lain saling mempengaruhi. Maka, satu tidak serta merta bisa menyalahkan yang lain, begitu pula sebaliknya.

Kebersamaan pada  akhirnya adalah kebutuhan. Menyendiri bukan jawaban untuk keamanan, karena pagar sosial bagaimanapun lebih kokoh dari pagar beton. Menyendiri juga bukan jawaban untuk ketenangan, karena rasa tak paralel dengan suasana.

(sumber : majalah Tarbawi, edisi 262 th.13, Dzulhijjah 1432, November 2011)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s